blog post

Hukum asal berutang

berutang hukum asalnya dalam syariat adalah boleh-boleh saja, tidak terlarang selama tidak melanggar aturan syariat. allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. (QS. al-Baqarah: 282)

rasulullah sendiri juga pernah berutang, bahkan diakhir hayat beliau, beliauu masih memiliki utang kepada seorang yahudi sehingga baju besi beliau digadaikan kepada orang tersebut.

para ulama juga sepakat bahwa meminjamkan uang kepada orang lain (utang) hukumnya seperti meminjamkan barang ('ariyah) untuk dimanfaatkan oleh orang lain. dan jika telah tiba waktunya maka barang itu akan dikembalikan lagi kepada pemiliknya. oleh karenanya, pemberi pinjaman tidak boleh mensyaratkan adanya tambahan pada saat pengembalian uang yang dipinjamkan. sebab, akad ini bukan termasuk jual beli yang menginginkan keuntungan dunia, tetapi akad saling tolong menolong (tabarru') dalam kebaikan.

jangan jadikan kebiasaan

meski berutang hukum asalnya adalah boleh namun menjadikannya sebagai kebiasaan adalah tindakan kesalahan, karena itu akan menjadi pintu bagi setan untuk menggelincirkan manusia. banyak pintu dan jerat setan pada kebiasaan buruk tersebut, seperti berlaku boros, mudah membeli barang-barang yang kurang manfaat, malas bekerja keras, menggatungkan diri kepada orang lain hingga pada puncaknya jika utang itu telah melilit dirinya sehingga ia tidak mampu membayar, biasanya akan sangat banyak pelanggaran syariat yang akan diterjang.

karenanya rasulullah sangat takut berutang, apalagi menjadikannya sebagai kebiasaan.

bandingkan dengan kebiasaan masyarakat hari ini, di mana semua berlomba dalam penampilan lahir, seiring dengan menjamurnya lembaga-lembaga ribawi yang menawarkan barang-barang baru dengan harga "terjangkau", tetapi dengan pembayaran kredit. belum lagi dengan 'bunga' yang hanya sekian persen, manusia akan saling berlomba mengoleksi barang-barang baru. namun, tahukah kita, hakikat sebenernya mereka sedang berlomba menumpuk utang yang rasulullah sangat khawatirkan.

buntut dari menumpuknya utang tersebut, akhirnya dia menjadi seorang yang sering berdusta, sering berjanji tapi tak pernah ditepati, semakin menjauhi dan berpaling muka tatkala berpapasan dengan yang memberi pinjaman. dia seakan mengelak, khawatir ditagih utangnya, padahal sudah lewat dari tempo yang dijanjikan. benarlah apa yang disabdakan oleh rasulullah tersebut.

tidak berutang kecuali yakin bisa melunasi

sesungguhnya semua amalan itu tergantung dari niatnya. jika niatnya baik maka ia akan dimudahkan, tapi jika niatnya adalah buruk maka di akan dibalas dengan ketidak berkahan.

boleh saja seorang meminta tolong kepada orang lain untuk meminjamkan sebagian hartanya, apalagi tatkala dia terdesak dalam suatu masalah. namun tatkala berutang maka niatkanlah dalam hati akan segera melunasinya. sebab, jika hatinya jujur maka allah akan membukakan untuknya jalan rezeki, sehingga ia bisa melunasi utangnya tersebut. namun jika sejak awal niatnya jahat, dia berutang tetapi tak ingin  mengembalikan harta tersebut maka allah akan menghukum dengan lenyapnya harta tersebut, tidak berkah, jika diinvestasikan maka akan rugi hingga akhirnya dia tidak akan mengembalikkan harta pinjaman tersebut.

apa bahaya jika utang tidak bisa terbayar? yang paling berbahaya dari sekian bahayanya ancaman aalah bahwa dosa-dosanya tidak akan diampuni sampai diselesaikan permasalahannya dengan orang yang mengutangi. karena hak antara sesama itu tidak bisa ditebus kecuali ketika di dunia orang yang dizalimi tersebut telah mengikhlaskan kezaliman itu.

bahkan rasulullah enggan menshalati jenazah yang ketahuan masih memiliki utang dan belum dibayarkan. beliau tidak menshalatinya sampai ada orang yang menanggung utang tersebut.

oleh karenanya, setiap yang berutang wajib memperhitungkan bahaya di atas, sehingga dia tidak menggampangkan urusan, namun dia harus berusaha untuk segera terbebas dari utangnya tersebut dengan mencari rezeki allah yang halal, bekerja keras dan yang terpenting adalah berdo'a agar allah mudahkan segala urusannya dn melapangkan rezekinya.

pada suatu hari seorang budak laki-laki mendatangi ali bin abi thalib lalu ia berkata, "wahai amirul mukminin, sesungguhnya aku merasa keberatan untuk membayar tebusan diriku, karenanya aku mohon bantuanmu" mendengar keluhan ini sahabat ali berkata kepadanya, "sudikah engkau aku ajari bacaan doa yang pernah diajarkan oleh rasulullah kepadaku, yang dengan do'a ini, andai engkau menanggung utang besar gunung niscaya allah akan memudahkanmu untuk melunasinya?

karena semua yang terjadi di alam dunia ini adalah atas kehendak allah, manusia hanya berikhtiar dan berdo'a namun allah jua yang menakdirkan. tidak ada daya dan upaya melainkan hanya dari allah.

segera lunasi hutang

di zaman kita sekarang memang terkadang seorang sulit untuk tidak lepas dari utang. bagi yang memanfaatkan fasilitas pemerintah berupa listrik pasca bayar pasti dia akan memiliki tagihan listrik tiap bulannya. demikian pula saluran PDAM, telepon rumah, dll. bagi yang menitipkan anaknya disuatu lembga pendidikan misalnya, pondok-pondok pesantren atau lainnya pasti tidak terlepas dari tagihan utang. namun semua itu tidak ada masalah jika kita yakin bahwa tagihan-tagihan tersebut kita bisa lunasi, karena pendapatan kita setelah dihitung-hitung masih mencukupi untuk membayar tagihan tersebut.

namun yang terpenting adalah menyegerakan untuk melunasi utang tersebut. karena termasuk kezaliman jika kita telah mampu membayar utang, tetapi kita menunda-nunda pembayaran.

demikian pula arisan-arisan bulanan atau tahunan, sebenarnya tidak mengapa kita ikut didalamnya, jika tidak terdapat pelanggaran syariat (semisal unsur riba) dan yang paling penting kita mampu melunasinya, apalagi bila dalam acara-acara tersebut sebagai sarana untuk menyampaikan nasihat-nasihat yang berharga. tidak sekedar untuk menabung dan mengumpulkan uang, tetapi dalam rangka untuk saling menjaga persahabatan dan ukhuwah, saling silaturahmi dan mempererat hubungan persaudaraan, maka semua itu adalah hal yang baik insyaallah.

kalau itu adalah utang kepada sesama makhluk maka demikian juga utang kepada allah. tatkala seorang harus  menunda sholat karena dia sedang melakukan safar, atau meninggalkan puasa ramadhan karena alasan sakit atau berpergian, seorang yang bernadzar akan memberi makan fakir miskin karena janjinya telah terpenuhi, maka semua itu juga merupakan utang yang wajib dibayar. dan hak allah lebih utama untuk ditunaikan. karenanya, menundanya juga sebuah kezalman dan kemaksiatan.

akhirnya, sebaik-baik manusia adalah yang mensyukuri nikmat-nikmatNya yang tiada tara jumlahnya. dia akan menambahkan nikmat tersebut. namun bila kita tak pandai bersyukur, maka adzab allah adalah sangat pedih. (QS. Ibrahim: 7)

dan di antara bentuk syukur kita adalah membelanjakan harta yang allah karuniakan kepada ketika kepada hal kebaikan dan tidak berlebih-lebihan. allah menyifati hamba-hambanya yang beriman dengan firman-Nya:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. al-Furqon:67)
semoga allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang jika diberi cobaan dapat bersabar dan jika diberi kenikmatan kita pandai bersyukur. amin. wallahu a'lam.
 
 
sumber: al-mawaddah vol. 104 rabiul akhir 1438 H
  • Share This Story


Afiyah

Afiyah

Deskripsi Rinci mengani Afiyah

Baca Juga