blog post

Sesungguhnya kecintaan kepada Nabi dan Ahlulbait (keluarga beliau) adalah termasuk perkara - perkara yang disepakati oleh umat Islam. Karena itu, kecintaan terhadap Ahllulbait adalah pintu yang banyak dipakai oleh orang - orang yang dengki kepada Islam. Mereka mendapati bahwa kaum muslimin mencintai Nabi dan Ahlullbaitnya, maka mereka bergantung dengan kecintaan terhadap Ahlubait untuk sampai kepada tujuan - tujuan mereka yang keji: mencela para Ummahatulmu mimin para istri Nabi dan mencaci para khalifah beliau dan para sahabat beliau yang mulia.

   Diantara orang - orang yang dengki kepada Islam tersebut adalah 'Abdullah bin Saba' , seorang yahudi yang menampakkan diri seakan - akan mencintai 'Ali bin Abi Thalib, ghuluw pada nya hingga mengklaim ketuhanan pada dirinya, 'Abdullah bin Saba' mendirikan sebuah madzhab yang baru yang dikenal di dalam sejarah dengan "Syi'ah"; madzhab ini hingga hari ini senantiasa menampakkan kepada kaum muslimin bahwa mencintai Ahlulbait untuk memasarkan aqidah - aqidah mereka yang batil.

   Di antara buku - buku Syi'ah yang menunjukan hakikat sikap orang - orang Syi'ah terhadap Ahlulbait, dan bahwa klaim kecintaan mereka terhadap Ahlulbait hanyalah kedustaan dan kebohongan adalah buku yang berjudul "Keluarga yang Disucikan Allah" Buku ini juga penuh dengan propaganda pemikiran - pemikiran Syi'ah dan melontarkan syubhat - syubhat yang membahayakan aqidah dan pemahaman seorang muslim.

    Karena itulah, Insyaallah dalam pembahasan kali ini kami berusaha melakukan telaah kritis terhadap buku ini sebagai pembelaan terhadap manhaj yang haq dan nasihat kepada kaum muslimin secara umum

Tikaman Penulis Terhadap Para Sahabat Nabi

Penulis mengatakan bahwa di antara sahabat ada yang murtad, sebagaimana di dalam hlm.27:

   "Berpaling atau murtadnya sebagian sahabat dari ajaran Nabi saw disebabkan oleh banyak hal. Di jazirah Arab sendiri, banyak orang Islam karena pedang berada di atas kepala mereka. Contohnya adalah ketika Nabi saw beserta ribuan pasukannya mengepung kota Mekah. Mereka terpaksa menerima Islam sebab ingin hidup lama lagi. Di antara mereka dalam Abu Sufyan, putrarnya Muawiyah, dan orang - orang yang seperti mereka, yang senantiasa masih merasakan pedihnya pedang kaum muslim di Badr, Uhud, Khandaq, dan seterusnya."

Penulis juga mengatakan bahwa di antara sahabat ada yang munafik, sebagaimana di dalam hlm. 48-49:

  "Di sis lain banyak sekali sahabat Nabi yang mulia dan berjasa dalam membantu menancapkan panji Islam melawan kaum  kafir hingga menemui Tuhannya membawa lencana kesyahidan di perang Badr, Uhud,Khandaq, dan seterusnya, dan diabadikan di dalam Al-Qur'an pada  seterusnya, dan diabadikan di dalam Al-Qur'an pada surah at - Taubah:100; Al - Anfal: 74; al-Fath: 18,74; al - Hasyr:8 Namun, ada juga di antara mereka yang fasik, munafik, bahkan ada yang murtad seperti yang dinyatakan dalam surah at-Taubah, di mana Allah SWT  murka pada (Sebagian)Sahabat.

Dan masih banyak lagi ungkapan - ungkapan miring yang lainnya dari penulis kepada para sahabat.

Kami katakan:

Demikianlah penulis mencela para sahabat Rasulullah dengan mengatakan bahwa di antara sahabat ada yang murtad dan ada yang munafik, padahal orang - orang munafik berada di kerak paling dalam dari neraka. Ini menunjukkan kebodohan yang sangat dari penulis terhadap para sahabat. Para ulama telah menjelaskan tentang siapakah yang dimaksud dengan para sahabat Nabi:

Al-Imam al-Bukhari berkata tentang definisi sahabat:

   "Orang yang bersahabat dengan Nabi atau yang melihat beliau dari kaum muslimin." {Shahih al-Bukhari (4:188)}

Al-Imam 'Ali bin al-Madini berkata:

  "Orang yang bersahabat dengan Nabi atau yang melihat beliau waalau hanya sesaat  dari siang." {Lihat Thabaqah Hanabilah (1:243), Fathul-Bari (7:5), dan Fathul -Mughits (3:86)!}

Al - Imam Ahmad bin Hanbal berkata:

"Setiap orang yang bersahabat dengan Nabi selama satu tahun atau satu bulan atau satu hari atau satu saat atau yang melihat beliau. Dia memiliki kedudukan sahabat sesuai dengan kadar pertemuanya dengan beliau, dan pernah bersama dengan beliau." {Lihat kitab Tahqiqir Rutbah Liman Tsabata Lahu Syarafush -Shuhbah (HLm.30-31) dan al-Kifayah (hlm.51)!}

Al-Imam Abul-Hasan al-Asy'ari berkata:

  "Para salaf telah sepakat bahwa orang - orang yang terbaik sesudah sepuluh orang sahabat yang terbaik sesudah sepuluh orang sahabat yang terbaik pada Ahli Badar dari kaum Muhajirin dan Anshar sesuai dengan kadar hijrah dan hulunya keislamanya, dan sepakat atas bahwa setiap orang yang bersahabat dengan Nabi walau sesaat atau melihat beliau walaupun hanya sekali dengan mengimani beliau dan apa yang beliau dakwahkan, adalah lebih afdhal dengan hal itu bila dibandingkan dengan para tabi'in."{Risalah lla Ahli Tsaghr (hlm.171)}

Definisi definisi di atas membantah kebohongan penulis buku 'hitam' Syi'ah ini yang menyatakan bahwa di antara para sahabat ada yang munafik. Bahkan, yang benar, para sahabat semuanya adalah mulia dengan pemulian Allah dan RasulNya. Al-Imam al -Khathib al-Baghdadi menyebutkan ayat - ayat dan hadits yang menunjukkan kedudukan dan keutamaan para sahabay, diantaranya:

Orang - orang yang terdahulu lagi yang pertama - tama (masuk Islam) di antara orang - orang Muhajirin dan Anshar dan orang - orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga - surga yang mengalir di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama - lamanya. Itulah kemenangan yang besar>{QS at-Taubah (9):100}

Kemudian beliau berkata: "Hadits -hadits yang semakna dengan hal ini banyak sekali, semuanya sesuai dengan apa yang datang dalam nash al -Qur'an, yang semuanya menunjukkan pada kesucian para sahabat dan pemastian atas keadilan mereka, mereka tidak butuh rekomendasi kepadaa siapa pun setelah rekomendasi Allah kepada mereka, Allah Dzat yang Maha Mengetahui isi hati mereka.. Ini adalah madzhab seluruh ulama dan yang dianggap perkataannya dari kalangan fuqaha. {al-Kifayah(hlm,96)}

 Syaikhul - Islam Ibnu Taimiyah berkata:"Di antara pokok - poko Ahlussunnah adalah: selamatnya hati dan lisan mereka terhadap para sahabat Rasulullah sebagaimana penyifataan Allah dalam firman-Nya:

 Dan orang - orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo'a:Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara - saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang - orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.' {QS. al-Hasyr (59):10)}

Sikap  Ahlussunnah ini adalah merupakan ketaatan kepada Rasulullah terhadap sabdanya: 'Janganlah kalian mencaci para sahabatku, demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya; seandainya seorang di antara kalian menginfaqkan emas sebesar Gunung Uhud tidaklah itu mencapai satu mud infaq seorang dari mereka dan tidak juga mencapai separuhnya.' {Muttaq 'alaihi, al-Bukhari (3673) dan Muslim (2540)}

Maka Ahlussunnah menerima apa saja yang yang datang dalam kitab, Sunnah, dan Ijma'tentang keutamaan - keutamaan dan tingkatan - tingkatan mereka. Ahlussunnah berlepas diri dari cara orang - orang Rafidhah yang membenci dan mencaci para sahabat, dan berlepas diri dari cara orang - orang Nawashib yang menyakiti Ahlulbait dengan perkataan atau menyakiti Ahlulbait dengan perkataan atau perbuatan ...."{al-Aqidah al-Wasithiyah (hlm.142-151)}

Merupakan hal yang dimaklumi bahwa ciri khas agama Syi''ah yang batil adalah celaan mereka terhadap para sahabat Nabi.(!)

Penulis Mencela Istri - Istri Nabi

Penuli membuat tuduhan - tuduhan keji terhadap istri - istri Nabi dengan mengatakan di dalam hlm. 89-90:

      "Bila kita membaca ayat (10) dari surah at-Tahrim, disana Allah membuat perumpamaan bagi istri- istri Nabi yang membangkang terhadap suaminya, yaitu istri Nabi Nuh as dan istri Nabi Luth as, hingga Allah SWT murka terhadap keduanya terhadap suami - suaminya dan dikatakan kepada keduanya dan mengecam pengkhianatan keduanya terhadap suami - suaminya dan dikatakan kepada keduanya:

"dan dikatakan (Kepada keduanya): 'Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang - orang yang masuk (jahannam):

Pada ayat tersebut kita mendapatkan satu pelajaran yang pasti bahwa istri - istri Nabi tidak bisa dijamin harus masuk surga."

  Di antara prinsip - prinsip Ahlussunnah waljama'ah adalah mencintai Ahlulbait (keluarga Nabi ) sesuai dengan wasiat Rasul dengan sabda beliau:

"Aku mengingatkan kalian pada ahli baitku, aku mengingatkan kalian pada ahli baitku, aku mengingatkan kalian pada ahli baitku."

Sementara itu, yang termasuk keluarga beliau adalah istri - istrinya sebagai Ummahatulumu' minin (ibu - ibu kaum mukminin) Radhiyallahu 'annhunna wa ardhahunna. Dan sungguh Allah telah berfirman tentang mereka setelah berbicara kepada mereka dengan firman-Nya:

  Hai istri - istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain ....{QS al-Ahzab (33):32}

Kemudian Allah mengarahkan nasihat - nasihat kepada mereka dan menjanjikan mereka dengan pahala yang besar. Allah berfirman:

     Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait, dan menyucikan kamu sesuci-sucinya." {QS al - Ahzab (33);33}

     ASy-Syaikh Muhammad bin Shalih al - Utsaimin berkata: "Maka istri - istri Rasulullah  adalah ibu - ibu orang - orang yang beriman dan ini adalah dengan ijma'. Barang siapa mengatakan: 'Sesungguhnya 'A'isyah-Radhiyallahu 'anha-bukan ibuku maka dia tidak termasuk orag - orang yang beriman, karena Allah Ta'ala berfirman: Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang - orang mukmin dari diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.' Barang siapa mengatakan bahwa 'Aisyah bukan ibu orang - orang yang beriman maka dia bukanlah orang  yang beriman, Rasulullah dan sungguh mengherankan mereka yang mencela 'Aisyah, mencacinya, dan membencinya, dalam keadaan dia adalah istri yang paling dicintai oleh Rasulullah, beliau tidak mencinati seorang pun dari istri - istrinya sebagai mana kecintaanya kepada 'Aisyah sebagai mana telah shahih dari Rasulullah di dalam Shahih al-Bukhari bahwa ditanyakan kepada beliau: 'Wahai Rasulullah, siapkah manusia yang paling  Tuan cintai ? "Beliau menjawab: "Aisyah". Mereka bertanya; '(kalau yang paling Tuan cintai) dari kalangan laki - laki ? Beliau menjawab: 'Ayahnya (yakni Abu Bark ash-Shiddiq red). 'Orang - orang ini membenci 'Aisyah dan mencacinya dan melaknatnya dalam keadaan dia adalah istri yang terdekat dengan Rasulullah maka bagaimana dikatakan bahwa mereka ini mencintai Rasulullah dan bagaimana dikatakan mereka ini mencintai keluarga Rasulullah akan tetapi, yang benar adalah klaim - klaim yang dusta, tidak memiliki dasar keshahihan, maka wajib atas kita adalah menghormati Ahlulbait Rasulullah akan tetapi, yang benar adalah menghormati Ahlulbait Rasulullah dari kerabat - kerabatnya yang beriman, dan dari istri - istrinya-Ummahatulmu;minin, semuanya adalah ahlu baitnya, dan mereka memiliki hak"{Syarhh Riyadhish - Shalihin (1:400)}

Penulis bertindak dzalim terhadap ahlulbait

 Penulis berupaya mengeluarkan istri - istri Nabi dari Ahulbait; dia berkata di dalam hlm. 75-76

    "Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa arrti ahlul - bait menurut kosakata dalam bahasa Arab tidak hanya terbatas pada istri saja, namun dapat diartikan juga pada putri serta cucu-cucu. Justru sang istri pada hakikatnya tidak termasuk pada golongan ahlul bait."

Penulis berkata di dalam hlm."100:

    "Mereka secara bulat dan aklamasi menyatakan bahwa yang disebut dan dimaksud dengan ahlulbait dalam surah al-Ahzab ayat (33) ialah:1. Rasulullah saw 2.Ali bin Abi Thalib as 3.Fathimah az-Zahra as 4. Sayidina Hasan bin Ali as 5. Sayidina Husain as."

Kami katakan:

   Syi'ah telah bertindak zalim terhadap para Ahlulbait dengan mengeluarkan hampir semua dari mereka dari sebutan Ahlulbait. Mereka menyelewengkan pengertian Ahulbait. dengan membatasi ahlu bait Rasul hanya pada empat orang ini dari mengeluarkan yang  selain empat orang ini dari sebutan Ahlulbait, demikian juga mereka hanya membatasi keturunan al-Hasan bin ALi tidak termasuk Ahlulbait.{Lihat Syi'ah wa Ahlulbait (hlm. 14)!}

   Dengan demikian mereka telah bertindak zalim terhadap istri - istri Nabi dengan mengeluarkan mereka dari Ahlulbait.

Mereka telah bertindak zalim terhadap putri - putri Nabi dengan mengeluarkan mereka dari Ahlulbait.

Mereka telah bertindak  zalim terhadap menantu - menantu Nabi selain Ali, seperti Abul-Ash bin ar-Rabi, dan Utsman bin Zainab dengan mengeluarkan keduanya dari Ahlulbait.

Mereka telah telah bertindak zalim terhadap cucu - cucu Nabi selain al-Hasan dan al-Husain, seperti Muhaisin dan Umamah bin Zainab dengan mengeluarkan keduanya dari Ahlullbait.

Mereka telah bertindak zalim terhadap keturunan - keturunan Nabi dari selain al-Husain, seperti keturunan - keturunan al - Hasan bin 'Ali dengan mengeluarkan mereka dari Ahlullbait

 Bahkan mereka telah bertindak zalim terhadap kerabat - kerabat Nabi dari keturunan al-Abbas, Aqil, dan Ja'far dengan mengeluarkan mereka dari Ahlullbait.

Ar-Raghib al-Ashfahani berkata:

  "Ahl ar-rajul ( ahli-nya seorang lelaki) pada asal-nya adalah orang - orang berkumpul dengan nya (lelaki tersebut) dalam satu tempat tinggal,kemudian dipakai secara majaz sehingga dikatakan 'ahlu bait ar-rajul' bagi siapa saja yang berkumpul dengannya di dalam nasab. "{al-Mufradat Fi  Ghara ibil-Qur'an }

Maka lafazh "ahlullbait" digunakan secara khusus untuk "istri" dan dipakai secara majaz untuk anak - anak dan kerabtnya sebagaimana yang termaktub di dalam al-Qur'an ketika Allah memberi kabar gembira kepada istri Nabi Ibrahim melalui lisan malaikat:

  "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?(itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai Ahlulbait"{QS Hud (11):73}

Telah dimaklumi bahwa arah pembicara tersebut ditujukan kepada Sarah, istri Nabi Ibrahim sendiri. Dialah yang dimaksud dengan "ahlullbait ." {Lihat juga Adhwa'ul - Bayan (6:238)!}

Kemudian juga di dalam ayat 32-33 dalam Surat al-Ahzab:

Hai istri - istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang - orang  jahiliyah yang dahuluu, dan  dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait, dan membersihkan kamu, hai Ahlulbait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. {QS al-Ahzab (33):32-33}

   Hadits-hadits shahih telah menetapkan kejelasan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan urusan istri - istri Nabi secara khusus bukan selain mereka. Dari Ibnu' Abbas tentang tafsir ayat:

Dia (Ibnu 'Abbas) berkata:"(Ayat tersebut ) turun kepada istri - istri Nabi secara khusus."  Kemudian berkatalah 'Ikrimah: "Bahwasannya ayat tersebut turun berkenaan dengan istri-istri Nabi secara Khusus."

Berdalil dengan riwayat - riwayat palsu

penulis banyak berdalil dengan riwayat-riwayat yang palsu, di antaranya:

1.Penulis berkata di dalam hlm. 44:

    "Setelah beliau (Nabi) wafat terjadi pemusnahan tulisan - tulisan hadis yang ditulis oleh para sahabat."

Kami katakan:

     Ini adalah yang riwayat - riwayat yang palsu, karena para sahabat tidaklah memusnahkan hadits-hdits yang mereka tulis, bahkan kitab - kitab hadits mereka masih ada dan diriwayatkan oleh para tabi'in dan generasi - generasi setelah mereka. di antara kitab - kitab tersebut ialah:

     a. Shahifah Abu Bakr ash-Shiddiq {Shahih al-Bukhari (3:317)}

     b. Shahifah  'Ali bin Abi Thalib {Shahih al-Bukhari (1:204)}

     c. Shahifah 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash {Musnad Ahmad (2:158-226)}

     d. Shahifah  Abu  Musa al - Asy'ari {lihat  Buhuts Fi Tarikh as-Sunnah al-Musyarrafah(hlm.228)}

     e. Shahifah Abu Musa al-Asy'ari {lihat Buhuts Fi Tarikh as- Sunnah al-Musyarrafah (hlm..11)}

     f. Shahifah Jabir bin 'Abdullah {Masyahir ulama il-Anshar oleh Ibnu Hibban (hlm.228)!}

     g. Shahifah Hammam dari Abu Hurrairah. Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad di dalam Musnad-nya dan diterbitkan dengan ditahqiq oleh Muhammad Hamidullah.

2. Penuli berkata di dalam hlm. 45:

     "Abu Hurairah juga pernah menjadi bulan -  bulanan pecutan khalifah Umar bin Khattab karena terllau banyak meriwayatkan hadis."

    Kami katakan:

   Ini adalah kisah yang dusta sebagaimana dijelaskan oleh para ulama {Lihat kitab Abu Hurairah Rawiyatul-Islam(hlm.24) dan Abu Hurairah wa Aqlamul-Haqidin (hlm.6)!}

Penutup

Itulah diantara hal - hal yang bisa kami paparkan dari sebagian penjelasan terhadap sebagaian syubhat-syubhat buku ini. Sebetulnya masih banyak hal - hal lainnya belum kami bahas  mengingat keterbatasan tempat.

Semoga sedikit yang kami paparkan di atas bisa menjadi pelita bagi kita dari kesamaran syubhat - syubhat buku ini dan semoga Allah selalu menunjukkan kepada kita jalan-Nya yang lurus dan menjauhkan kita dari semua jalan - jalan kesesatan.

Sumber (Al-Furqon Edisi Tahun ke-16 {179})

 

  • Share This Story


Afiyah

Afiyah

Deskripsi Rinci mengani Afiyah

Baca Juga