blog post

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). (QS. an-Nisa[4]: 83)

Disusun oleh Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron

Umat Islam zaman sekarang disibukkan dengan berita politik, di antaranya tentang keributan dalam negeri, mereka pun bingung. Ujung-ujungnya, mereka menyalahkan pemimpin/penguasa. Mereka menuduh pemimpinnya zalim. Bukankah pemimpin hasil pemilu dipilih oleh rakyat? Jika rakyatnya baik Insya Allah pemimpinnya pun baik. Ingatlah, aman tidaknya sebuah negeri tergantung perilaku rakyatnya juga.

MAKNA AYAT SECARA UMUM

Asy-Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di berkata:

Allah mengingatkan perbuatan hamba-Nya yang salah. Mestinya, umat ini tatkala mendengar berita tentang perkara yang penting yang menyangkut keamanan negara, berita gembira untuk kaum muslimin, atau sebaliknya berita yang menakutkan berupa hura-hara; hendaknya meneliti berita itu sebelum menyebarkannya, bahkan sebaiknya menyerahkan berita itu kepada Rasulullah (atau kita menyerahkan urusan ini kepada para ulama sunnah) dan menyerahkan berita ini kepada waliyul-amri, yaitu orang yang cerdik, punya ilmu din, penasihat umat, yaitu orang yang tahu maslahat dan mudarat. Karena merekalah yang lebih tahu baiknya berita itu disebarkan, atau sebaliknya tidak disebarkan karena membawa mudarat. Dengan demikian, orang awam bisa mengambil faedah. Ayat ini juga dapat diambil suatu kaidah, jika kita dihadapkan pada perkara yang genting maka kembalikan urusannya kepada ahlinya, bukan terserah katanya orang awam; inilah jalan yang lebih baik dan lebih selamat. Ayat ini juga menunjukkan larangan terburu-buru menyebarkan berita, tetapi hendaknya dipahami dan dimengerti sebelum melangkah atau menyebarkannya. Ayat berikutnya menjelaskan; seandainya Allah tidak memberi petunjuk kepada kalian, tentu kalian mengikuti jejak setan, tentu sedikit sekali mereka yang selamat, karena tabiat manusia senang berbuat zalim dan bodoh dan hawa nafsunya menyeru kepada kejahatan. Jika kita mau berlindung kepada Allah, menyerahkan semua urusan kepada Allah, dan berusaha menjadi orang yang ahli ibadah, tentu Allah akan berbuat lembut kepada mereka dan memberi petunjuk menuju jalan yang benar. (Tafsir al-Karimur-Rahman [1:190] )

PEMIMPIN YANG ZALIM UJIAN BUAT UMAT

Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. al-Anbiya[21]: 35)

Kita diuji oleh Allah dengan kebaikan dan keburukan. Kita diuji dengan pemimpin yang jujur dan diuji dengan pemimpin yang zalim, untuk diketahui oleh Allah secara lahir, mana hamba yang bersabar dan mau menasihatinya dengan baik, dan mana yang putus asa dan yang mengikuti hawa nafsu? Kita akan mendapat laporan amal kita dan diberi balasan yang sesuai.

Terkadang setan mendatangi orang-orang dan membisikkan taat kepada pemimpin itu wajib bila ia semisal Abu Bakr dan 'Umar. Adapun penguasa ini termasuk orang fasik lagi bermaksiat kepada Allah. Mereka tidak menegakkan hukum Allah, sehingga tidak ada kewajiban untuk taat kepadanya. Perhatikan Allah menguji kita dengan adanya pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Allah, lalu apa wasiat Rasulullah; beliau bersabda:

"Nanti akan ada penguasa-penguasa sepeninggalanku, yang tidak memegang petunjukku dan tidak  melaksanakan sunnahku. Di tengah mereka ada orang-orang yang hatinya berhati setan dalam bentuk manusia."

Lalu Hudzaifah berdiri dan bertanya: "Wahai Rasulullah, apa yang Tuan perintahkan apabila saya menjumpainya?" Beliau menjawab:

"Dengarkan dan taatilah penguasa, meskipun punggungmu dipukul, dan hartamu dirampas." (HR. Muslim[3:1481] )

Dalam kondisi demikian ini, yang telah disebutkan Nabi, beliau menetapkan wajibnya taat kepada penguasa yang zalim tatkala memerintah kita kepada kebaikan meskipun terjadi tindak kesewenang-wenangan terhadap rakyat. Nabi bersabda:

"Sebaik-baik penguasa adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian. Meraka mendo'akan kalian dan kalian mendoa'kan mereka. Sejelek-jelek penguasamu kamu membenci mereka dan mereka membenci dirimu, dan yang kalian laknati dan mereka melaknat kalian."

Lihatlah kondisi penguasa yang zalim, kalian membencinya karena agamanya yang dangkal. Dan mereka membenci kalian karena tipisnya agama mereka. Kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.

Para sahabat bertanya:

"Apakah kita harus memerangi mereka dengan pedang, wahai Rasulullah?"

Beliau bersabda:

"Tidak, selama ia masih menegakkan shalat dengan kalian. Jika kalian melihat tindakan pemimpinmu yang kamu benci, hendaknya kalian membenci kemaksaiatannya, dan jangan keluar melepaskan ketaatan kepadanya."

Begitulah wasiat beliau menyikapi pemimpin yang zalim yang tidak berhukum dengan sunnah Rasulullah, agar kita bersabar atas kecurangannya dan menaati perintahnya yang baik.

KEBAIKAN RAKYAT KEBAIKAN PEMIMPIN

Rasulullah bersabda:

"Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang tua."

Pemimpin termasuk "orang tua umat" yang harus dimuliakan. Kita bukan memuliakan kezalimannya, melainkan memuliakan kepamimpinannya. Orang yang baik kepada pemimpin, Insya Allah dia baik kepada umatnya. Anak yang berbuat baik kepada orang tua, Insya Allah orang tua akan berbuat baik kepadanya.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata: "Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta'ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya; bahkan perbuatan rakyat seakan-akan cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus maka akan lurus pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zalim maka penguasa mereka akan ikut berbuat zalim.  Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolah hak-hak Allah dan enggan memenuhinya maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. Jika dalam mu'amalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. Setiap yang diambil oleh rakyat dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan. Dengan demikian, setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkan hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian, berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu'awiyah, 'Umar bin 'Abdul 'Aziz, apalagindipimpin oleh Abu Bakr dan 'Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Ta'ala." (LIhat Miftah Daris-Sa'adah[2:177-178]!)

KEZALIMAN PEMIMPIN KARENA RAKYATNYA

Ketahuilah, musibah berupa kezaliman pemimpin itu karena kejahatan rakyat. Allah berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. asy-Syura[42]: 30)

Pemimpin yang zalim adalah musibah, tetapi sebabnya karena umatnya. Mungkin ada yang bertanya: "Kami sudah bertauhid, mengikuti sunnah, menjauhi syirik, bid'ah, dan kemaksiatan, tetapi pemimpin kami berbuat zalim." Baik, sudahkah kita berpikir? Bukankah umat ini lebih banyak yang berbuat syirik dari pada yang bertauhid, lebih banyak yang mengamalkan bid'ah dari pada yang mengamalkan sunnah, lebih banyak yang maksiat daripada yang taat?

Asy-Syaikh 'Abdul-'Aziz ar-Rajihi menerangkan di dalam kitab Syarh al-'Aqidah ath-Thahawiyah: "Kecurangan dan kezaliman pemimpin karena ulah rakyatnya. Jika rakyat berharap kepada Allah kebaikan pemimpinnya, hendaklah mereka memulai memperbaiki dirinya, hendaknya bertaubat kepada Allah atas semua dosanya. Allah telah berfirman kepada manusia yang paling baik sesudah para Rasulullah, yaitu para sahabat Rasulullah; Allah berfirman kepada mereka pada waktu Perang Uhud:

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali 'Imran[3]: 165)

Tatkala kaum muslimin kalah pada Perang Uhud, tujuh puluh meninggal dunia; mereka berkata: 'Bagaimana bisa demikian?' Bagaimana bisa terjadi terbunuh orang yang dikatakan oleh Allah (yang artinya): 'Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada Perang Badr)' lalu kalian terbunuh tujuh puluh pada Perang Uhud, maka Allah berkata (yang artinya): 'Katakanlah: Musibah yang menimpa pada dirimu itu karena kemaksiatanmu sendiri', yang dilakukan oleh para pemanah tatkala meninggalkan pesan tempat penjagaan, maka jika paling baiknya manusia setelah Rasulullah, Allah berkata kepada mereka: 'Itu kesalahanmu!' maka bagaimana dengan diri kita yang kena musibah atas kecurangan pemimpin karena perilaku rakyat yang curang. Jika rakyat ingin bebas dari kecurangan pemimpinnya." (Syarh al-'Aqidah ath-Thahawiyah oleh 'Abdul-'Aziz ar-Rajihi[1:29] pada al-Maktabah asy-Syamilah)

ADAKAH MANFAATNYA PEMIMPIN YANG ZALIM?

Pemimpin yang zalim masih ada manfaatnya. Allah berfirman:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS al-Mu'minun[23]:115)

Mungkin kita menganggap aneh dengan pertanyaan ini. Akan tetapi, sebenarnya itu tidak aneh. Sekalipun pemimpin yang muslim tersebut berbuat zalim, masih ada manfaatnya, berdasarkan ayat di atas, karena Allah tidak menjadikan sesuatu sia-sia. Bukankah Iblis dan setan itu makhluk yang paling jelek penyesat umat, walaupun demikian masih ada manfaatnya; dengan adanya Iblis dan Setan, kita disuruh berlindung kepada Allah dari godaannya, kita disuruh menjauhi langkah-langkahnya, kita disuruh waspada dan hati-hati; bukankah ini bermanfaat untuk orang yang beriman, dia mendapatkan pahala dan selamat dari godaannya. Dengan adanya pemimpin muslim yang zalim, kita harus waspada dari tindakan kezalimannya, menaati perintahnya yang baik, menasihatinya seperti Nabi Musa dan Nabi Harun menasihati Fir'aun, kita berdo'a agar pemimpin kita mendapatkan petunjuk seperti do'anya Rasulullah kepada kaumnya yang menganiayanya.

Al-Imam Ibnu Abil-'Izzi al-Hanafi berkata: "Sesungguhnya dengan adanya raja yang zalim, tentu Allah akan menghilangkan kejahatan yang lebih banyak daripada kejahatan yang dilakukan oleh pemimpin. Telah dikatakan: Enam puluh tahun dipimpin oleh pemimpin yang zalim lebih baik daripada satu malam tanpa pemimpin, jika ditakdirkan pemimpin itu banyak kezalimannya, maka itu baik bagi agama, seperti musibah yang menimpa, bukankah menghapus dosanya, mendapat pahala karena bersabar atas musibah, mereka akan mengembalikan urusannya kepada Allah, mereka beristighfar, dan bertaubat kepada Allah." (Syarh al-'Aqidah ath-Thahawiyah tahqiq Ahmad Syakir[2:378] )

BOLEHKAH MENCELA PEMIMPIN YANG ZALIM?

Mencela pemimpin hukumnya haram. Allah berfirman:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Rabb merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa  yang dahulu mereka kerjakan. (QS. al-An'am[6]:108)

Menghina makhluk Allah berarti menghina yang menciptakannya. Dan ayat di atas menjelaskan pula kaidah segala tindakan yang bertujuan baik jika mengakibatkan kepada mudarat dan bahaya hukumnya haram. Oleh karena itu, para ulama berkata: "Janganlah mengingkari kezaliman dengan kezaliman, tetapi tutuplah kezaliman itu dengan kebaikan." Allah berfirman:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

 Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (QS. Hud[11]:114)

Tatkata kita dilarang menghina pemimpin yang zalim, kita disuruh memuliakan mereka; kita bukan memuliakan  kezalimannya, melainkan memuliakan kedudukannya sebagai pemimpin. Nabi bersabda:

"Barang siapa menghina sulthan Allah di dunia, niscaya Allah akan menghinakannya."

Siapa pun pemimpin tidak boleh dihina, walaupun dia berbuat curang, karena kalimat isim mufrad yang bersambung dengan isim makrifat, menunjukkan umum artinya "semua pemimpin". Pemimpin jika dihina tentu dia marah, marahnya pemimpin lebih berbahaya daripada kezaliman yang dia lakukan.

Sahl bin 'Abdullah berkata: "Manusia akan senantiasa baik bila mereka mengagungkan pemimpin dan ulamanya. Apabila mereka mengagungkan dua kelompok ini maka Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka dan apabila mereka melecehkan dua kelompok ini maka Allah akan merusak dunia mereka." (Lihat Tafsir al-Qurthubi (5:260)!)

Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin berkata: "Betapa indahnya pemahaman as-Salaf ash-Shahih bermu'amalah dengan pemimpin, tidaklah mereka menjadikan kekeliruan pemimpin sebagai sarana untuk membangkitkan kemarahan masyarakat agar benci pada pemimpinnya." (Lihat Huququl-Wulat [hlm. 22]! )

WAJIBKAH MENAATI PEMIMPIN YANG ZALIM?

Rasulullah bersabda:

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكرَهَ إِلا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَّةٍ فَإِنْ أَمَرَ بِمَعْصِيَّةٍ فَلا سَمْعَ وَلا طَاعَةَ

"Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa/umara) pada apa-apa yang ia sukai atau ia benci, kecuali apabila penguasa itu menyuruh untuk berbuat kemaksiatan. Apabila ia menyuruh untuk berbuat maksiat maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat." {HR al-Bukhari (no. 2955, 7144), Muslim (no. 1839), at-Tirmidzi (no. 1707), Ibnu Majah (no. 2864) }

Kita dilarang mengikuti kezaliman pemimpin, namun jika dia memerintah yang baik maka kita wajib menaatinya berdasarkan hadits di atas.

Al-Imam an-Nawawi berkata: "Di dalam (hadits) ini terdapat anjuran untuk mendengar dan taat kepada penguasa, walaupun ia seorang dhalim dan sewenang-wenang. Maka berikan haknya (sebagai pemimpin) yaitu berupa ketaatan, tidak keluar ketaatan dirinya, dan tidak menggulingkannya. Bahkan (perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim adalah) dengan sungguh-sungguh lebih mendekatkan diri kepada Allah supaya Dia menyingkirkan gangguan/siksaan darinya, menolak kejahatannya, dan agar Allah memperbaikinya (kembali taat kepada Allah meninggalkan kezalimannya)." {Syarh Shahih Muslim Lin-Nawawi (12:232) Daru Ihya'it-Turatsil-'Arabi-Beirut cetakan ke-2, 1392}

Ibnu Abil-'Izz mengatakan: "Menaati pemimpin adalah wajib hukumnya, walaupun mereka berbuat zalim (kepada kita). Jika kita keluar dari menaati mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari kezaliman yang mereka perbuat. Bahkan bersabar terhadap kezaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala. Allah tidak menjadikan mereka berbuat zalim selain disebabkan karena kerusakan yang ada pada diri kita juga. Ingatlah, yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan (al-jaza' min jinsil-'amal). Oleh karena itu, hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam istighfar dan taubat serta berusaha mengoreksi amalan kita. Perhatikanlah firman Allah:

 ۚمَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. (QS. an-Nisa[4]: 79)

Allah berfirman:

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ 

Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. (QS. al-An'am[6]: 129}

Apabila rakyat menginginkan terbebas dari kezaliman seorang pemimpin, maka hendaklah mereka meninggalkan kezaliman." {Syarh  al-Aqidah ath-Thahawiyah (1:420) al-Maktabah Islami-Beirut cetakan ke-3, 1391}

WAJIBKAH BERSABAR ATAS KEZALIMAN PEMIMPIN?

Ibnu 'Abbas berkata: "Nabi bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

"Barang siapa melihat pada amirnya terdapat sesuatuyang dibenci, hendaklah bersabar, barang siapa keluar dari jama'ah sejengkal, lalu dia mati, maka dia mati jahiliyah." [HR al-Bukhari (6531)}

Tidaklah rakyat membenci pemimpinnya melainkan karena tidak disenangi perbuatannya atau tidak berbuat adail dan tidak melaksanakan kewajibannya. Namun, kita umat Islam wajib bersabar atas kezalimannya sebagaimana keterangan dalil di atas, karena bersabar atas musibah menghapus pahala, dan Insyaallah akan meredakan kezalimannya.

Rasulullah bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِيْ أَثَرَةً فَاصْبِرُوْا حَتَّى تَلْقَوْنِيْ عَلَى الْحَوْضِ

Sesungguhnya kalian nanti akan menemui at-sarah (yaitu: pemerintah yang mementingkan kebutuhan dirinya dan tidak peduli dengan hak rakyatnya). Maka bersabarlah hingga kalian menemuiku di al-haudh (telaga Rasulullah di akhirat)." {HR al-Bukhari (no.7057) dan Muslim (no.1845)}

Salamah bin Yazid al-Ju'fi bertanya kepada Rasulullah:

يَا نَبِيَّ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ قَامَتْ عَلَيْنَا أمَرَاءُ يَسْأَلُوْنَا حَقَّهمْ وَيَمْنَعُوْنَا حَقَّنَا فَمَا تَأْمُرُنَا فَأَعْرَضَ عَنْهُ ثُمَّ سَأَلَهُ فَأَعْرَضَ عَنْهُ ثُمَّ سَأَلَهُ فِي الثَّانِيَةِ أَوْ فِي الثَّالِثَةِ فَجَذَبَه اْلأَشْعَثُ بْنِ قَيْسِ وَقَالَ اسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهمْ مَا حَمَلُوْا وَعَلَيْكُمْ مَا حَمَلْتُمْ

 “Wahai Nabiyullah, bagaimana pendapat tuan bila kita dipimpin oleh pemimpin yang menuntut haknya,sedangkan mereka tidak memberikan hak kita? Apa yang tuan perintahkan kepada kami?”. Rasulullah shallallaahu‘alaihi wa sallam berpaling (tidak menjawabnya), lalu dia bertanya lagi, nabi berpaling, lalu dia bertanya lagi ketiga kalinya. Maka Al-Asy’ats bin Qais menariknya sambil berkata: Dengarkan dan taatilah mereka (ketika memerintah kebaikan), Karena mereka punya tugas sebagaimana kamu punya tugas."{HR Muslim (3:174 no.49) Daru Ihla'it-Turatsil-'Arabi-Beirut cetakan ke-2, 1392}

Hadits di atas merupakan jawaban yang sangat gamblang bagi para pembela Sunnah yaitu tetap sabar atas kezaliman penguasa serta tetap mendengar dan taat kepada mereka tatkala memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran.

ANJURAN MENDO'AKAN PEMIMPIN YANG ZALIM

Allah berfirman:

وَ قَالَ رَبُّکُمُ ادۡعُوۡنِیۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ یَسۡتَکۡبِرُوۡنَ عَنۡ عِبَادَتِیۡ سَیَدۡخُلُوۡنَ جَہَنَّمَ دٰخِرِیۡنَ 

Dan Rabbmu berkata: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah (enggan berdo'a) kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina-dina." {QS Ghafir/al-Mu'min (40):60}

Berdo'a kepada Allah adalah ibadah yang sangat mulia, tidak ada amalan yang lain yang bisa menandinginya. Do'a adalah pedang utama untuk menepis semua kejahatan, mengapa? Di tangan Allah segala sesuatu, Dialah yang membolak-balikkan hati hamba. Terkadang kita dilupakan  oleh setan ketika menghadapi huru-hara, kita lupa bahwa semua musibah ini ujian dari Allah. Mengapa kita tidak berdo'a kepada Allah. Rasulullah tatkala dizalimi oleh suku Daus, beliau berdo'a semoga Allah memberi hidayah kepada mereka.

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: قَدِمَ طُفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو الدَّوْسِيُّ وَأَصْحَابُهُ، عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ دَوْسًا عَصَتْ وَأَبَتْ، فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا، فَقِيلَ: هَلَكَتْ دَوْسٌ، قَالَ: «اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ

Dari Abu Hurairah, dia berkata: "Ath-Thufail dan para sahabatnya mendatangi (Rasulullah) lalu berkata: 'Ya Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus kafir dan membangkang, oleh karena itu, berdo'alah kepada Allah agar mereka mendapatkan kecelakaan.' Seseorang berkata: 'Binasalah kabilah Daus!' Akan tetapi, Rasulullah nerdo'a: Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkanlah kebaikan kepada mereka." {HR Muslim (no.2524) penerbit Daru Ihya'it-Turatsil-'Arabi-Beirut}

Al-Fudhail bin 'Iyadh berkata: "Seandainya aku memiliki do'a yang mustajab, aku akan do'akan penguasaku agar menjadi baik. Kita diperintahkan untuk mendo'akan pemimpin agar menjadi baik, kita tidak diperintahkan agar mendo'akan jelek, sekalipun penguasa melakukan kejahatan dan kezaliman. Sebab, kezaliman pemimpin kembali kepada dirinya sendiri; sebaliknya, baiknya pemimpin berarti untuk dirinya dan untuk umat Islam." {Lihat Thabaqatul-Hanabilah (2:26)!}

Asy-Syaikh Ibnu Baz berkata: "Mendo'akan kebaikan untuk penguasa merupakan sebaik-baik pendekatan diri kita kepada Allah dan paling tingginya derajat ketaatan di sisi Allah, tergolong menasihati karena Allah dan menasihati hamba-Nya, Nabi tatkala dikabari bahwa suku Daus bermaksiat, beliau mendo'akan: 'Ya Allah, berilah petunjuk Daus dan datangkan kepada mereka kebaikan.'" {Lihat Muraja'ah Fi Fiqhil-Waqi' as-Siyasi wal-Fikri (hlm. 31)!}

Beginilah seharusnya umat Islam ketika menghadapi pemimpinnya yang zalim, mendo'akan agar dia mendapatkan petunjuk, bukan sebaliknya mendo'akan jelek dan mengolok-olok.

WAJIB MENASIHATI PEMIMPIN YANG ZALIM

Allah memerintah kepada Nabi Musa agar menasihati Fir'aun:

 (اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ (17) فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَىٰ أَنْ تَزَكَّىٰ (18) وَأَهْدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخْشَىٰ (19

"Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. dan katakanlah (kepada Fir'aun): "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)". Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu supaya kamu takut kepada-Nya?" {QS. an-Nazi'at (79): 17-19}

Allah menjadikan dinul-Islam iniadalah nasihat, karena semua manusia pasti memiliki kesalahan dan kezaliman. Seandainya manusia tidak berdosa, tentu sia-sia Allah menyuruh kita bertaubat dan beristighfar. Jika manusia biasa melakukan kesalahan, tentu hal yang bukan aneh bila pemimpin melakukan pelanggaran juga; oleh kerenanya, ulama hendaknya menasihati mereka. Rasulullah bersabda:

«الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم»

"Agama adalah nasihat”. Kami pun bertanya: "Bagi siapa?" Beliau menjawab, “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan umumnya kaum muslimin.” {HR Muslim (1:74 no. 95) penerbit Daru Ihya'it-Turatsil-'Arabi-Beirut}

Pemimpin yang kafir pun harus dinasihati, karena keumuman hadits di atas. Allah sebelum mengazab pemimpin yang kafir seperti Fir'aun, Allah menyuruh Nabi Musa agar datang menasihatinya, bukan disuruh mendemo atau membunuhnya, sebagaimana keterangan ayat di atas.

Allah memerintahkan para ulama hendaknya menasihati pemimpin dengan kata-kata yang lembut. Firman-Nya:

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

Maka berbicaralah kamu berdua (wahai Musa dan Harun) kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. {QS. Thaha(20): 44}

Perhatikan ayat di atas, pemimpin yang jelas kafirnya, yang mengatakan dirinya: "Saya ini tuhanmu yang maha tinggi", Nabi Musa dan Harun disuruh agar menasihatinya dengan lembut; maka bagaimana jika pemimpin itu muslim?

Menasihati pemimpin tidak boleh dibongkar kezalimannya lewat khutbah, berita, koran, televisi, radio, dan media elektronik lainnya, karena hal itu bukan memberantas kemungkaran, tetapi menyebarkan kemungkaran kepada umat dan menambah kemarahan pemimpin.

'Iyadh berkata kepada Hisyam: "Sungguh aku mendengar dan melihat, belumkah kamu mendengar Rasulullah bersabda:

'Barang siapa ingin menasihati pemimpin, maka jangan di tengah umum, tetapi mendatanginya dan menyendiri dengannya, jika diterima (itulah kebaikannya), jika tidak sungguh dia telah menyampaikan apa yang menjadi kewajibannya." {Hadits dinilai shahih oleh al-Albani di dalam kitab Zhilalul-Jannah (2:273) }

Wahai saudaraku, inilah perintah Allah dan perintah panutan kita Nabi Muhammad. Kita tidak diperintahkan mendemo atau menggulingkan pemimpin muslim yang zallim, tetapi menasihatinya dengan baik, dan ini kewajiban para ulama dan ahlul-halli wal-aqdi. Jika ini yang kita lakukan, Insya Allah kita akan mendapatkan pertolongan-Nya; sebaliknya, jika nasihat yang mulia ini diabaikan, tentu mala petaka yang akan tiba.

Jika pemimpin sudah dinasihati dengan lembut, tetapi enggan menerimanya bahkan bertambah berbuat zalim, maka Allah yang akan bertindak kepada hamba. Perhatikan apa yang terjadi pada Raja Fir'aun setelah menolak nasihat Nabi Musa dan Nabi Harun? Dan siapakah yang dimenangkan? Padahal, kekuatan fisik Nabi Musa kalah bila dibandingkan dengan kekuatan dan kekuasaan Fir'aun dan bala tentaranya. Namun, Allah berjanji dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. {QS. Muhammad(47): 7}

BOLEHKAH MENDEMO PEMIMPIN YANG ZALIM?

Allah berfirman:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. {QS. al-Baqarah(2): 195}

Kalau kita pelajari beberapa dalil di atas, kita dilarang mendemo dan memberontak atau mengajak rakyat agar keluar dari pemimpin muslim yang zalim. Sebab, bahayanya lebih besar daripada manfaatnya; akan terjadi pertumpahan darah dari kalangan kaum muslimin, negeri terancam ekonomi dan keamanannya,  bahkan terancam pula umat Islam.

Perhatikanlah nasihat yang mulia al-Imam Ahmad bin Hanbal tatkala beliau dianiaya oleh pemimpin yang zalim yang memaksa beliau agar berkata bahwa "al-Qur'an itu makhluk", beliau dimintai pendapat "bolehkah keluar dan pemimpin yang zalim ini".

Para ahli fiqih Baghdad bersepakat menemui Abu 'Abdillah -yaitu al-Imam Ahmad bin Hanbal- untuk membicarakan kepemimpinan al-Watsiq (yaitu karena penyimpangan dan kezalimannya terhadap hak-hak kaum muslimin). Mereka mengadu: "Sesungguhnya perkara ini telah memuncak dan tersebar,  yaitu ucapan: 'Al-Qur'an adalah makhluk' dan perkara yang lainnya (yaitu kezalimannya terhadap kaum muslimin). Kami tidak ridha dengan kepemimpinannya  dan kekuasaannya." Maka beliau (al-Imam Ahmad) mendebat mereka dan berkata: "Wajib atas kalian mengingkarinya hanya dalam hati kalian. Janganlah kalian melepaskan tangan kalian dari ketaatan (kepada pemerintah), janganlah kalian memecah-belah persatuan kaum muslimin, janganlah kalian menumpahkan darah kalian dan darah kaum muslimin. Renungkanlah oleh kalian akibat yang akan ditimbulkan dari apa yang hendak kalian lakukan. Dan bersabarlah kalian sampai orang yang baik hidup tenteram dan selamat dari orang yang jahat." Lalu beliau melanjutkan: "Hal ini (yaitu keluar dari ketaatan kepada penguasa) bukanlah suatu kebaikan. Ini adalah tindakan yang menyelisihi atsar." {Baca al-Adabusy-Syar'iyah oleh Ibnu Muflih (Juz 1 hlm. 195, 196). Kisah ini juga dikeluarkan oleh al-Khallal dalam as-Sunnah (hlm. 133) dan lihat http://www.al-islam.com}

MENUDUH ULAMA MENDIAMKAN PEMIMPIN ZALIM

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ 

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa. {QS. al-Hujurat(49): 12}

Para pendukung Khawarij menuduh bahwa para ulama sunnah mendiamkan pemimpin yang zalim, karena tidak mau ikut demonstrasi dengan mereka. Ulama sunnah dituduh licik dan penakut karena mndiamkan pemimpin yang zalim. Inilah buruk sangka orang jahil kepada ulama sunnah. Ulama sunnah Insyaallah telah menasihati mereka, namun bukan cari muka sehingga harus diketahui oleh masyarakat umum.

Dari Usamah bin Zaid ia berkata: " Seseorang berkata kepadanya: 'Apakah Anda tidak menemui 'Utsman (bin 'Affan) dan menasihatinya ?' Maka Usamah menjawab: 'Apakah kamu memandang bahwa aku tidak menasihatinya kecuali aku perdengarkan di hadapanmu? Demi Allah, sungguh aku telah menasihatinya dengan empat mata.

Sebab aku tidak akan membuka perkara (fitnah) di mana aku tidak menyukai jikalau aku adalah orang pertama yang membukanya.'" {Shahih Muslim (no. 2989) penerbit Daru-Ihya'it-Turatsil-'Arabi-Beirut}

Al-Imam asy-Syaukani berkata: "akan tetapi, barang siapa mengetahui kesalahan seorang imam (penguasa) dalam sebagian permasalahan, sudah selayaknya menasihati tanpa mempermalukannya di hadapan khalayak umum. Namun, caranya adalah sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits:  'Hendaklah ia mengambil tangan penguasa itu dan mengajak berduaan dengannya, mencurahkan nasihat kepadanya, dan tidak menghinakan penguasa Allah.' Telah kami paparkan di awal buku as-Siyar bahwa tidak boleh memberontak kepada ima-imam (pemerintah) kaum muslimin walaupun , mereka sampai berbuat kezaliaman apa pun selama mereka menegakkan shalat dan tidak tampak kekufuran yang nyata dari mereka. Hadits-hadits yang diriwayatkan dengan makna seperti ini adalah mutawatir. Namun, wajib bagi orang yang dipimpin  untuk menaati imam dalam ketaatan kepada Allah dan mendurhakainya bila ia mengajak bermaksiat kepada Allah. Sebab, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada al-Khaliq." {as-Sailul-Jarar (hlm. 965) penerbit Dari Ibnu Hazm, cetakan ke-1 }

BERILMU DAN BERAMAL SHALIH MEREDAKAN KEZALIMAN PEMIMPIN

Rasulullah menjelaskan bahwa fitnah akhir zaman, redupnya ilmu tauhid dan din serta menyebar kebodohan, Syirik, bid'ah dan kemaksiatan. Jika ini terjadi, tentu kezaliman merajalela di mana-mana. Anas mendengar Nabi bersabda:

"Di antar tanda-tanda hari Kiamat adalah: ilmu (din) akan diangkat, kebodohan semakin tampak, perzinaan merajalela, khamar diminum, wanita semakin banyak, kaum pria semakin sedikit, hingga lima puluh wanita memiliki satu orang laki-laki yang menjadi penopang." {HR. al-Bukhari (no.81) }

Setelah kita mengetahui  penyebab kezaliman adalah kebodohan, solusinya kita harus menuntut ilmu Syar'i dan menyebarkan ilmu ini kepada umat agar mereka terang hatinya. Setelah berilmu, hendaknya mengamalkannya, dengan demikian kezaliman pemimpin akan berkurang, karena umatnya menjadi umat yang baik. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

"Bersegeralah melakukan amal shalih sebelum terjadi fitnah seperti sebagian malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seseorang beriman, namun di sore  harinya kafir. Sebaliknya, di waktu sore ia beriman dan di pagi harinya ia kafir. Salah seorang dari mereka menjual agamanya dengan kesenangan duniawi." {HR Muslim (no. 328) }

Rasulullah mengingatkan penyebab lemahnya kaum muslimin dan timbulnya kecurangan karena ambisi dunia dan melantarkan dinnya. Ibnu Umar berkata: "Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda:

'Jika kalian melakukan jual beli dengan cara 'inah (riba), mengambil ekor-ekor sapi (sibuk dengan ternaknya) sibuk dengan pertanian dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menebarkan kehinaan kepada kalian, yang tidak akan dicabut-Nya sampai kalian kembali ke agama Allah.'

Semoga Allah memberi petunjuk kepada para pemimpin kaum muslimin dan kepada semua umat Islam menuju jalan yang diridhai-Nya.

  • Share This Story


Afiyah

Afiyah

Deskripsi Rinci mengani Afiyah

Baca Juga