blog post

Kondisi Indonesia yang lembab sangat mendukung tersebarnya berbgai macam lalat. Di sisi lain, kebiasaan hidup sebagian masyarakat juga belum memiliki pola hidup yang sehat, sehingga memungkinkan tersebarnya bibit penyakit yang dibawa oleh lalat, seperti: disentri, kolera, typhus, diare dll.

Pengetahuan tentang biologi lalat membantu kita untuk antisipasi dampak buruknya. Beberapa literatur menyebutkan, setiap kali lalat hinggap di suatu tempat, + 125.000 bibit penyakit dijatuhkan pada lokasi tersebut. Lalat juga diduga menyebarkan virus flu burung, selain cacing pita dan kolera pada ayam

Lalat rumah, Musca domestica berfungsi sebagai vektor (pembawa) berbagai bibit penyakit. Dengan jumlahnya yang banyak dan hubungan eratnya dengan lingkungan hidup manusia, maka jenis lalat Musca domestica merupakan jenis yang terpenting ditinjau dari sudut kesehatan manusia.

SIKLUS HIDUP LALAT

Latar berkembang biak dengan bertelur, berwarna putih dengan ukuran lebih kurang 1mm panjangnya. Setiap kali bertelur antara 120-130 butir dan menetas dalam waktu 8-16 jam. Telur ini tidak akan menetas di bawah 12-13 derajat C. Telur yang menetas akan menjadi larva berwarna putih kekuningan, panjang 12-13 mm. Akhirnya larva berpindah dari tempat yang banyak makanan ke tempat yang dingin guna mengeringkan tubuhnya. Setelah itu berubah menjadi kepompong yang berwarna cokelat tua. Fase ini berlangsung pada musim panas 3-7 hari pada temperatur 30-35 derajat C. Kemudian akan keluar lalat muda dan sudah dapat terbang antara 450- 900 meter. Siklus hidup dari telur hingga menjadi lalat dewasa 6-20 hari. Lalat dewasa panjangnya  lebih kurang 1/4 inci, dan mempunyai 4 garis yang agak gelap hitam di punggungnya. Beberapa hari kemudian sudah siap untuk berproduksi. Pada kondisi normal, lalat dewasa betina dapat bertelur sampai 5 (lima) kali. Umur lalat pada umumnya sekitar 2-3 minggu, tetapi pada kondisi yang lebih sejuk biasa sampai 3 (tiga) bulan. Lalat tidak kuat terbang berlawanan dengan arah angin, tetapi sebaliknya lalat akan terbang jauh mencapai 1 kilometer.

Dalam waktu 3-4 hari, seekor lalat betina mampu menghasilkan 500 butir telur. Bisa dibayangkan, dengan kemampuan berkembang biak lalat tersebut dapat memberikan ancaman tersendiri.

Tempat yang disenangi lalat adalah tempat yang basah seperti sampah basah, kotoran binatang dan manusia yang masih lembab, tumbuh-tumbuhan busuk, kotoran yang menumpuk secara kumulatif di kandang serta air kotor atau limbah.

PENYAKIT YANG DITULARKAN OLEH LALAT

1.  Disentri

     Penyebaran bibit penyakit dibawa oleh lalat rumah yang berasal dari sampah, kotoran manusia/hewan. Gejalanya yaitu sakit di bagian peut dan pada kotoran terdapat mukus dan nanah.

2.  Diare

     Gejalanya: sakit pada bagian perut, lemas dan pencernaan terganggu.

3.  Typhoid

     Gejala yang ditimbulkan: gangguan pada usus, sakit pada perut, sakit kepala, berak darah dan demam tinggi.

4.  Kolera

     Gejalanya: muntah-muntah, demam, dehidrasi. Penyakit ini tersebar di berbagai dunia, tidak dipengaruhi iklim. kebersihan perorangan yang buruk serta sanitasi lingkungan yang rendah berpengaruh langsung terhadap kejadian kolera.

     Keberadaan lalat juga menjadi penyebab keretakan hubungan sosial antara peternak dengan warga di sekitar peternakan. Bukan mustahil keberadaan lalat ini menjadi penyebab ditutupnya suatu peternakan .

UPAYA PENGENDALIAN LALAT DAPAT MELALUI HAL-HAL BERIKUT:

1.  Menghilangkan tempat perindukan lalat.

 

Semisal dengan membersihkan kandang ternak, menutup tumpukan pupuk kandang dengan plastik dan membuat slab yang menutup lubang septic tank serta tidak membuang kotoran sembarangan.

2.  Untuk Pengungsian,

Bila fasilitas jamban tidak memenuhi, pengungsi dapat melakukan buang air besar kurang lebih 500  meter pada arah angin yang tidak mengarah ke dekat tempat perindukan atau timbunan makanan dan 30 meter dari sumber air bersih. Ini dapat menghilangkan lalat di dalam lokasi penampungan.

3.  Sampah basah dan organik.

Pengumpulan dan pembuangan sampah yang dikelola dengan baik dapat menghilangkan media perindukan lalat. Bila sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah dari rumah-rumah tidak ada, dapat dibakar atau dibuang ke lubang sampah. Dengan catatan bahwa setiap minggu sampah yang dibuang ke lubang sampah harus ditimbun tanah sampai tidak menjadi tempat pembiakan lalat. Lokasi akhir pembuangan sampah harus beberapa km dari rumah penduduk.

4.  Mengurangi sumber yang menarik lalat

Semisal hasil dari makanan ikan dan tepung tulang, sirup gula, tempat pembuatan susu, air kotor dan bau buah yang manis khusus. Untuk mengurangi sumber yang menarik lalat dapat dicegah dengan melakukan kebersihan lingkungan, membuat saluran air limbah dan menutup tempat sampah.

5.  Mencegah kontak

Antara lalat dengan kotoran yang mengandung kuman. Dengan membuat jamban yang tertutup, mencegah lalat kontak dengan orang yang sakit, tinja, penderita sakit mata serta mencegah agar lalat tidak masuk ke tempat sampah dari pemotongan hewan dan bangkai binatang.

6.  Melindungi makanan dan peralatan makan dari lalat.

PEMBERANTASAN LALAT SECARA LANGSUNG

Membunuh lalat secara langsung dapat dilakukan dengan:

1.  Cara Fisik

     Cara pemberantasan secara fisik adalah cara yang mudah dan aman tetapi kurang efektif bila lalat dalam kepadatan yang tinggi. Cara ini hanya cocok untuk digunakan pada skala kecil. Caranya dengan memasang perangkap lalat (fly trap) di luar rumah, kertas lengket (sticky tapes) yang tersedia di pasaran, perangkap elektronik atau pemasangan kasa/plastik pada lubang ventilasi.

2.  Cara Kimia

     Pemberantasan lalat dengan insektisida harus dilakukan hanya untuk periode yang singkat bila sangat diperlukan, karena menjadi akan menjadi resistan/kebal. Semisal penanganan kasus wabah kolera, disentri atau trachoma.

  • Share This Story


Afiyah

Afiyah

Deskripsi Rinci mengani Afiyah

Baca Juga