blog post

 Pernikahan ialah kebutuhan primer yang dijadikan oleh Allah Azza Wajalla sebagai cara menjaga kehormatan seorang muslim di dunia. Allah Azza Wajalla sendiri menyebutnya sebagai ikatan yang amat berat lagi kuat, sehingga tak boleh dianggap remeh atau ditelantarkan.

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

 


Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (QS. an-Nisa': 21)

 Pernikahan pula menjadi ikatan yang amat penting dari dua anak manusia, karena darinya akan menghasilkan berbagai hukum dalam perkara dunia dan agama. Hubungan mahram, nasab, waris dan yang lainnya. Itu semua dihasilkan karena ikatan pernikahan.

 Dalam islam sendiri, Rasul SAW telah menganjurkan umatnya agar bersegera mencari pendamping hidup jika dirasa telah mampua secara lahir maupun batin. Rasulullah SAW bersabda (yang artinya),

"Wahai para pemuda, barangsiapa yang telah mampu diantara kalian maka hendaklah (segera) menikah. Sebab, (ia) lebih dapat menjaga pandangan dan memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, hendaklah dia berpuasa, karena itu adalah tameng baginya." (HR. al-Bukhari: 5056, Muslim: 3464, dan lafazh ini milik Muslim)

 Demikian pula, karena tak semua orang pandai mencari jodoh buat dirinya sendiri, Allah Azza Wajalla pun membuka pintu kebaikan bagi orang-orang muslim untuk membantu mencarikan pasangan bagi saudaranya seislam. Terlebih, bagi mereka yang sudah berumur namun belum memilki pasangan. Allah Azza Wajalla berfirman:

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

 


Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. an-Nur: 32)

 Maka dari ayat di atas diambil faedah, bahwa seorang yang menjadi perantara perjodohan antara seorang muslim dan muslimah, maka ia telah berbuat hal yang disyaritkan. Bahkan, ia akan masuk di dalam keumuman firma Allah Azza Wajalla pada QS. al-Ma'idah ayat 2.

 Namun, banyak saudara kita seislam yang belum mengetahui bagaimana cara ta'aruf atau percomblangan yang benar menurut Islam. Sehingga dengan sebab itu, tak sedikit yang telah masuk ke dalam kesalahan-kesalahan yang terkadang berakibat fatal. Mengapa? Karena mereka kurang, atau bahkan tak memperhatikan sama sekali etika dan adab saat melakukan percomblangan atau perjodohan.

RAMBU-RAMBU PERCOMBLONGAN YANG SERING DISEPELEKAN

Islam adalah agama yang beradab. Semua syariat Islam memiliki nilai adab yang sangat luhur. Tak terkecuali dalam masalah pernikahan dan perjodohan. Karena itulah, bagi kita yang hendak membantu saudara sesama muslim atau muslimah untuk mencari jodohnya, hendaknya memperhatikan rambu-rambu dan etika dalam percomblangan berikut:

1. Bertakwa kepada Allah Azza Wajalla Karena semua hal yang tidak dilandasi dengan ketakwaan maka tak akan bermanfaat. Karena itulah, sebelum melangkah, hendaknya orang yang menjadi biro jodoh menata kembali rasa takutnya kepada Allah Azza Wajalla, sehingga ia akan lebih berhati-hati dan selamat. Demikian pula, dengan ketakwaan, maka Allah Azza Wajalla akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. (QS. ath-Thalaq: 2-3)

2. Meluruskan niat Agar semata-mata percomblangan yang sedang kita proses bernilai ibadah dan menjadi amal shalih. Caranya, dengan selalu menghandirkan niat ikut membantu saudara seiman agar lekas mendapatkan jodoh supaya terjaga pandangannya, agama serta kehormatannya. Karena Rasulullah SAW pernah bersabda dalam hadits Umar R.A yang sangat masyhur, (yang artinya) "Hanya saja semua amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan menerima balasan dari apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang hendak ia dapatkan atau kepada wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju." (HR. al-Bukhari: 1)

3. Jangan memaksa Saat memproses perjodohan saudara kita, posisi kita sebenarnya ialah pemberi nasihat dan saran dalam musyawarah, bukan seorang hakim yang memiliki kuasa dalam putusannya. Karena itulah, jadilah saudara seislam yang bersikap baik dan llunak dalam memberi nasihat, bukan seorang yang otoriter dan memaksakan kehendak. Lihatlah, bagaimana kisah Mugits R.A yang ditinggalkan oleh Barirah R.A setelah dirinya dimerdekakan oleh Aisya R.A.

 Saat itu Barirah di datangi oleh Rasulullah SAW dan mengusulkan agar ia kembali menjadi istri Mughits. Akan tetapi Rasul tidak memaksakan kehendak, dan menjelaskan posisi beliau kepada Barirah yang hanya sebagai penasihat serta perantara, bukan seorang hakim yang wajib putusannya. Dan walaupun hasil akhirnya Barirah tetap tidak mau kembali kepada Mughits. (HR. al-Bukhari: 5279 dan hadits setelahnya)

4. Jangan tergesa-gesa

Sudah banyak kita saksikan sifat tergesa-gesa banyak mengantarkan orang-orang kepada penyesalan. Ajaran Islam sendiri telah menganjurkan umatnya agar senantiasa berhati-hati dalam setiap hal. Maksud dari kehati-hatian di sini adalah tidak gegabah untuk memberikan saran secara sembrono dan tergesa-gesa. Sabarlah, karena jika proses perjodohan yang kita lakukan diridhai oleh Allah, niscaya ia akan terlaksana.

5. Jelaskan yang baik dan yang buruk secara adil.

Jika kita telah mengetahui posisi kita sebenarnya dalam proses perjodohan ini, maka hendaknya kita menjadi seorang yang adil dalam memberikan informasi kepada masing-masing calon pasangan suami istri. Jangan sampai karena hubungan kita yang dekat dengan salah satu pihak ikut mempengaruhi informasi yang kita berikan mengenalnya.

 Ingat, ikatan pernikahan yang tengah kita proses itu bukan semacam akad jual beli makanan ringan atau membeli pakaian, yang bila terlibat aib setelahnya bisa ditukar! Karena akad pernikahan adalah ikatan yang sangat berat, maka keamanahan pihak yang membantu proses terjadinya akad sangat di tuntut. Ingatlah selalu firman Allah Azza Wajalla dalam QS. an-Nisa' ayat 58.

6. Ingatlah rahasia saudaramu

 Tidaklah kita dipilih oleh saudara kita seislam sebagai pernatara perjodohan mereka terkecuali karena mereka percaya dan yakin kepada kita bahsa rahasia mereka aman bersama kita. Karena itulah, jaga rahasia saudaramu, jangan kau sebarkan sehingga akan menjadi sumber masalah dan dosa jika sampai terdengar orang yang tak seharusnya.

 Inga, termasuk ciri kemunafikan, ialah bila seorang yang dipercaya melakukan khianat. (Sebagaimana tertera dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 33)

7. Berdoa kepada Allah Azza Wajalla

Agar senantiasa diberikan ketepatan dalam memilih Allah Azza Wajalla telah menjelaskan bahwa Dia akan mengabulkan permohonan hamba-Nya bila mereka meminta dan memenuhi syarat terkabulnya (QS. al-Baqarah: 186)

 Al-Fudail bin Iyadh juga pernah mengatakan, "Doa adalah senjata orang muslim."

 Karena itulah seorang hamba harus senantiasa memasrahkan segala urusannya kepada Allah Azza Wajalla pada awal akhirnya. Karena hanya di tangan Allah hati manusia di bolak-balikkan. Sehingga selayaknya kita memohon kepada-Nya agar ditunjuki kepada pilihan yang terbaik.

  • Share This Story


Afiyah

Afiyah

Deskripsi Rinci mengani Afiyah

Baca Juga